November 17, 2005

Lagu anak-anak

Filed under: My Life - ones @ 10:59 am

Lagu anak-anak yang populer ternyata mengandung kesalahan, mengajarkan
kerancuan, dan menurunkan motivasi.

Mari kita buktikan :

1. “Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu..
merah
muda dan biru… meletus balon hijau, dorrrr!!!”
Perhatikan warna-warna kelima balon tsb., kenapa tiba2 muncul warna
hijau ? Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 !

2. “Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang… kalo berjalan
prok..prok..prok… aku seorang kapiten!”
Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di
bait
kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsis- tensi). Harusnya dia
tetap
konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia
bernyanyi :
“mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang)… kalo berjalan
prok..prok..prok..” nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang
pedangnya, harusnya dia bernyanyi : “mempunyai pedang panjang… kalo
ber- jalan ndul..gondal..gandul.. atau srek.. srek.. srek..” itu
baru
sesuai dg kondisi pedang
panjangnya!

3. “Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis
mandi
ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..”
Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur.
Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam
menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi
seharusnya
si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur
dalam
kondisi basah dan telanjang!

4. “Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan
kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X”
Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat
dan
motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang
tinggi
tetapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu
jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh ke kiri ke
kanan
aja, gak maju2!

5. “Naik kereta api tut..tut..tut.. siapa hendak turut ke Bandung..
Sby..bolehlah naik dengan percuma.. ayo kawanku lekas naik.. keretaku
tak
berhenti lama”
Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa
maunya gratis melulu. Pantesan PT. KAI rugi terus! terutama jalur
Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya!

6. “Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2
sepanjang
hari dg tak jemu2.. mengangguk2 sambil bernyanyi tri li
li..li..li..li..li..” Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan
kepada
anak2 akan realita yg
sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya
cuit..cuit..cuit..!
kalo tri li li li li itu bunyi kalo yang nyanyi orang, bukan burung!

7. “Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang makan nasi, kalo malam minum
susu..” Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi
gak malem ya minum susu!

October 25, 2005

Paku Pagar

Filed under: My Life - ones @ 9:46 am

Dengan bukunya If Life is a Game, These are The Rules (Broadway,
1998), motivator andal Cherie Carter-Scott, PhD, memberikan pandangan
spiritual dasar untuk menjelaskan apa artinya menjadi manusia lewat
10 kaidah kehidupan.

Menurut Cherie, sejak “memperoleh” tubuhnya, manusia mulai memasuki
sekolah kehidupan. Yang dihadapi setiap hari tak lain
adalah “pelajaran” demi” pelajaran”. Setiap pelajaran selalu diulang
sampai kemudian dikuasai. Tak ada kata salah-benar, yang ada hanya
pelajaran. Proses belajar itu tak ada akhirnya. Orang lain adalah
cermin bagi kita. Seperti apakah hidup kita nanti amat tergantung
pada diri sendiri.

Anto memiliki tabiat yang kurang baik. Gampang marah, memaki, atau
ngomel. Suatu hari ayahnya memberi sekantung paku seraya berpesan,
setiap kali marah atau ngomel, ia harus menancapkan sebuah paku pada
kayu pagar belakang rumah.

Hari pertama, Anto menancapkan 27 paku. Hari demi hari berikutnya ia
mampu mengurangi jumlah paku yang mesti ditancapkan. Lama-lama ia
sadar, ternyata lebih mudah mengendalikan emosinya daripada harus
menancapkan paku. Ia melaporkan hal itu pada sang ayah. Setelah itu
ayahnya menyarankan, mulai sekarang Anto diharuskan mencopot kembali
satu paku setiap kali ia berhasil mengendalikan emosinya. Pada
akhirnya anak muda itu berhasil mencopot semua paku yang tertancap
pada kayu tersebut.

Sang ayah kemudian menggandeng Anto melihat pagar kayu. “Kau telah
melakukan sesuatu yang baik anakku. Namun, lihatlah kayu besar ini
sekarang berlubang-lubang, tidak mulus lagi. Inilah cermin hidup.
Setiap kemarahan, kegusaran, akan menimbulkan bekas luka di hati
orang. Persis seperti bekas-bekas lubang paku pada kayu ini.
Betapapun kita berkali-kali minta maaf, luka itu masih ada”

Dalam bukunya, Cherie Carter-Scott menulis, “… Setiap kemarahan
akan membuatmu menjadi lebih kecil, sementara memaafkan akan
mendorongmu untuk berkembang jauh melebihi ukuranmu.”

Cermin Seekor Burung

Filed under: Motivation Stories - ones @ 9:43 am

KETIKA musim kemarau baru saja mulai. Seekor burung pipit mulai
merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang
dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan
tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara,
mencari udara yang selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara
makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara
lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel
salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena
tubuhnya terbungkus salju.

Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah
tebal. Si burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa
riwayatnya telah tamat.

Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor
kerbau yang kebetulan lewat menghampirinya. Namun si burung kecewa
mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Dia menghardik si kerbau
agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin
mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing
tepat di atas burung tersebut. Si burung pipit semakin marah dan
memaki maki si kerbau. Lagi-lagi si kerbau tidak bicara, dia maju
satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung.
Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran
kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku
pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia
dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si burung
pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri
sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan
kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-
sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya
bersih, si burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah
mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap
gulita bagi si burung, dan tamatlah riwayat si burung pipit ditelan
oleh si kucing.

Hmm… tak sulit untuk menarik garis terang dari kisah ini, sesuatu
yang acap terjadi dalam kehidupan kita: halaman tetangga tampak
selalu lebih hijau; penampilan acap menjadi ukuran; yang buruk acap
dianggap bencana dan tak melihat hikmah yang bermain di sebaliknya;
dan merasa bangga dengan nikmat yang sekejap. Burung pipit itu adalah
cermin yang memantulkan wajah kita…

TABAH

Filed under: Poetry - ones @ 9:36 am

Sejuk….
Kala angin membelaiku
Kala angin membelaiku

Indah….
Ketika cinta menghampiri
Ketika cinta menghampiri

Syahdu….
Ketika cita tergapai
Ketika cita tergapai

Tapi….!
Indah Terasa Sakiiiiit…!!
Ketika kita tak bersyukur
Ketika kita tak bersyukur
Ketika kita tak bersyukur
Ketika kita tak bersyukur

Mid Test

Filed under: My Life, Campus - ones @ 9:24 am

Wah, hari ini pagi-pagi banget gw dah brangkat ke Kampus Biru. Mau blajar PHP, soalnya jm 12.30 gw mid test. Gw belajar beneran, berjam-jam di depan komputer. Sesekali gw menggeliat, bwat ngilangin rasa letih. Uh, jadi juga codingnya, aku compile ahh.! Eh, gak tau gw yang error apa computernya, codingnya gak menghasilkan seperti yang gw harap.

Duh, gimana nih. pusing juga bikin program, padahal sederhana banget lho. Ah, emang gw orangnya gak sabaran. Gw tuh bukan tipe orangnya simple sih, jadi kalo mau begini ya ayo. kalo gak mau ya udah. Sama kayak program yang dw bikin, kalo jadi ya bagus, tapi kalo gak jadi ya udah. Paling2 gw nanya ma temen.

Akhirnya gw nanya bener ma Si Gun. Lama juga kami menelusuri satu per satu baris2 kode yg gw bikin. Jadi juga akhirnya. Yah, udah jam 12.25, Mid Test sekarang…!

Kaget, ternyata soalnya sama persis kayak program yang aku buat latihan, ya udah gw gak mau pusing, gw ambil aja program yang tadi. Asyik…! Aku compile ah. Haaah…! Kok ga bisa..! gw dah mulai naik. Gw tanya dosen kenapa programnya gak jalan, eh dia rupanya malez lihat programku yang panjang. Gw coba cari bugnya, tapi g ketemu2. Sampe waktunya abis. Nyesek dech..!

October 24, 2005

14 sial, 21-22 Okt 05

Filed under: My Life - ones @ 6:56 am

Welcome to ones at Blogsome. This is my first post. Dua hari kemarin gw ngalamin hal yang aneh banget. Gw kena sial sebanyak 14 kali. Pertama hari Sabtu, 21 Oktober 05 pagi-pagi banget ada seorang tetangga nganterin titipan surat pengumuman rutin buat komunitasnya, namanya Bu A***n. Eh dia ngomongnya ga ngenakin banget, “Jangan di buang ya?”, katanya dengan wajah cemberut dan muka dilipet 14, jadi ciut gitu. Kenapa dia bilang gitu, padahal kita kurang baik apa, setiap minggu kami nganterin surat titipan itu orang yang di tuju. Padahal jumlahnya ada 6, dan rumahnya masing2 jauh2 banget. Setiap minggu lho, selama beberapa tahun terakhir. Eh, dia ngomong gitu siapa yang ga kesel, kalo bukan bulan puasa aku makan tuh orang, untungnya aku puasa takut batal. He…he…!

Sial yang kedua, gw kan iseng betulin pager garasi sama Aat. Gak tau gemana, tau2 jari tengah tangan kiri gw, terpukul martil yang di pakai Aat. Bengkak dah jari gw. Duh Sakiiit..! Gimana sih masak jari orang dipukul, emangnya gw dah kebal. Sebelum mukul jari orang, coba tes dulu pukul jari sendiri, enak gak? kalo gak enak ya jangan mukul gw dong. Hu…hu..!

Sial yang ketiga kepala gw ketiban kaso, pas lagi narik terpal garasi dari atap. Waduuuh…! Benjol palaku, hiks..hiks..!

Sial yang keempat, gw mau seminar UFO di Pondok Betung, katanya ada banyak mitraku yang mau brangkat bareng, pas aku samperin ternyata ada acara mendadak semua?? Akhirnya gw cuma berdua ma Ilo, mitraku juga. Dah gitu gw SMS mitra terbaik (tau kan), namanya S**, dia jg janji mo dateng. Ternyata ampe acara mulai, gak dateng2 juga. Tambah lagi, ujan turun deres banget. Wah, kaco semua. Padahal abis seminar seharusnya gw ngajar, akhirnya g bisa ngajar dan Rp. 50.000 lewat begitu saja. Ini jadi sial kelima.

Yang keenam, pas ujan udah reda, gw balik ma Ilo, di tengah perjalanan bensin abis. Dorong deh, aduh capek. Tadi cuman buka Es Kelapa doang.

Yang ke tujuh, ampe rumah Ilo, gw langsung balik, semangat banget cause gw mo main bulu tangkis, dah 10 hari gak main, gw kan hobby banget. Eh, pas ampe rumah, ternyata mati lampu, udah gitu lapangan berair lagi. AduuuuH….aduuuh..! Akhirnya gw ngobrol2 ma Aat. “At, tar kalo lampu nyala, kita main bulu tangkis yuk?”. “Ayo..!” jawabnya. Tapi lampu di tunggu gak nyala2. Tiba-tiba lampu nyala, orang2 pada sorak, ternyata cuma sebentar. Akhirnya Aat masuk. Dah BeTe nungguin.

Jam 23.30, lampu nyala, “At, lampunya nyala….!”, gw langsung ambil serokan ma pel buat ngeringin lapangan. “srok…srok…!”, sendirian lagi. Setengah jam kemudian lapangan dah kering. Aku masuk mau panggil Aat. Ternyata dia lagi nonton bola, dia kalo dah nonton bola gak mao diganggu. Akhirnya, gw dah capek2 ngebersihin lapangan, gak jadi main. Siaaaallll..! Ini yang ke delapan.

Masih ada 6 sial lagi, tapi gw dah capek nih. Dah dulu yah, tar kita sambung lagi deh. Huaaaah…!

Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here