October 25, 2005

Cermin Seekor Burung

Filed under: Motivation Stories - ones @ 9:43 am

KETIKA musim kemarau baru saja mulai. Seekor burung pipit mulai
merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang
dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan
tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara,
mencari udara yang selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara
makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara
lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel
salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena
tubuhnya terbungkus salju.

Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah
tebal. Si burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa
riwayatnya telah tamat.

Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor
kerbau yang kebetulan lewat menghampirinya. Namun si burung kecewa
mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Dia menghardik si kerbau
agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin
mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing
tepat di atas burung tersebut. Si burung pipit semakin marah dan
memaki maki si kerbau. Lagi-lagi si kerbau tidak bicara, dia maju
satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung.
Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran
kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku
pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia
dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si burung
pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri
sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan
kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-
sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya
bersih, si burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah
mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.

Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap
gulita bagi si burung, dan tamatlah riwayat si burung pipit ditelan
oleh si kucing.

Hmm… tak sulit untuk menarik garis terang dari kisah ini, sesuatu
yang acap terjadi dalam kehidupan kita: halaman tetangga tampak
selalu lebih hijau; penampilan acap menjadi ukuran; yang buruk acap
dianggap bencana dan tak melihat hikmah yang bermain di sebaliknya;
dan merasa bangga dengan nikmat yang sekejap. Burung pipit itu adalah
cermin yang memantulkan wajah kita…

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://ones.blogsome.com/2005/10/25/cermin-seekor-burung/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>


Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here