<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Ones Blogs</title>
	<link>http://ones.blogsome.com</link>
	<description>This blog is about my life.</description>
	<pubDate>Sat, 26 Nov 2005 00:13:23 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Lagu anak-anak</title>
		<link>http://ones.blogsome.com/2005/11/17/lagu-anak-anak/</link>
		<comments>http://ones.blogsome.com/2005/11/17/lagu-anak-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2005 10:59:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ones</dc:creator>
		
	<category>My Life</category>
		<guid>http://ones.blogsome.com/2005/11/17/lagu-anak-anak/</guid>
		<description><![CDATA[	Lagu anak-anak yang populer ternyata mengandung kesalahan, mengajarkan
kerancuan, dan menurunkan motivasi.
	Mari kita buktikan :
	1. &#8220;Balonku ada 5&#8230; rupa-rupa warnanya&#8230; merah, kuning, kelabu..
merah
muda dan biru&#8230; meletus balon hijau, dorrrr!!!&#8221;
    Perhatikan warna-warna kelima balon tsb., kenapa tiba2 muncul warna
hijau ? Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 !
	2. &#8220;Aku seorang kapiten&#8230; mempunyai pedang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Lagu anak-anak yang populer ternyata mengandung kesalahan, mengajarkan<br />
kerancuan, dan menurunkan motivasi.</p>
	<p>Mari kita buktikan :</p>
	<p>1. &#8220;Balonku ada 5&#8230; rupa-rupa warnanya&#8230; merah, kuning, kelabu..<br />
merah<br />
muda dan biru&#8230; meletus balon hijau, dorrrr!!!&#8221;<br />
    Perhatikan warna-warna kelima balon tsb., kenapa tiba2 muncul warna<br />
hijau ? Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 !</p>
	<p>2. &#8220;Aku seorang kapiten&#8230; mempunyai pedang panjang&#8230;  kalo berjalan<br />
prok..prok..prok&#8230; aku seorang kapiten!&#8221;<br />
    Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di<br />
bait<br />
kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsis- tensi). Harusnya dia<br />
tetap<br />
konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia<br />
bernyanyi :<br />
    &#8220;mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang)&#8230; kalo berjalan<br />
prok..prok..prok..&#8221; nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang<br />
pedangnya, harusnya dia bernyanyi :   &#8220;mempunyai pedang panjang&#8230; kalo<br />
ber-  jalan ndul..gondal..gandul.. atau srek.. srek.. srek..&#8221;     itu<br />
baru<br />
sesuai dg kondisi pedang<br />
panjangnya!</p>
	<p>3. &#8220;Bangun tidur ku terus mandi.. tidak lupa menggosok gigi.. habis<br />
mandi<br />
ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..&#8221;<br />
    Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur.<br />
Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam<br />
menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi<br />
seharusnya<br />
si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur<br />
dalam<br />
kondisi basah dan telanjang!</p>
	<p>4. &#8220;Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan<br />
kulihat saja.. banyak pohon cemara.. 2X&#8221;<br />
   Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat<br />
dan<br />
motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang<br />
tinggi<br />
tetapi  kemudian ternyata setelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu<br />
jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh ke kiri ke<br />
kanan<br />
aja, gak maju2!</p>
	<p>5. &#8220;Naik kereta api tut..tut..tut.. siapa hendak turut ke Bandung..<br />
Sby..bolehlah naik dengan percuma..  ayo kawanku lekas naik.. keretaku<br />
tak<br />
berhenti lama&#8221;<br />
  Nah, yg begini ini yg parah! mengajarkan anak-anak kalo sudah dewasa<br />
maunya gratis melulu. Pantesan PT. KAI rugi terus! terutama jalur<br />
Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya!</p>
	<p>6. &#8220;Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2<br />
sepanjang<br />
hari dg tak jemu2.. mengangguk2  sambil bernyanyi tri li<br />
li..li..li..li..li..&#8221;   Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan<br />
kepada<br />
anak2 akan realita yg<br />
  sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya<br />
cuit..cuit..cuit..!<br />
kalo tri li li li li  itu bunyi kalo yang nyanyi orang, bukan burung!</p>
	<p>7. &#8220;Pok ame ame.. belalang kupu2.. siang makan nasi,  kalo malam minum<br />
susu..&#8221;    Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi<br />
gak malem ya minum susu!
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ones.blogsome.com/2005/11/17/lagu-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Paku Pagar</title>
		<link>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/paku-pagar/</link>
		<comments>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/paku-pagar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2005 09:46:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ones</dc:creator>
		
	<category>My Life</category>
		<guid>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/paku-pagar/</guid>
		<description><![CDATA[	Dengan bukunya If Life is a Game, These are The Rules (Broadway,
1998), motivator andal Cherie Carter-Scott, PhD, memberikan pandangan
spiritual dasar untuk menjelaskan apa artinya menjadi manusia lewat
10 kaidah kehidupan.
	Menurut Cherie, sejak &#8220;memperoleh&#8221; tubuhnya, manusia mulai memasuki
sekolah kehidupan. Yang dihadapi setiap hari tak lain
adalah &#8220;pelajaran&#8221; demi&#8221; pelajaran&#8221;. Setiap pelajaran selalu diulang
sampai kemudian dikuasai. Tak ada kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Dengan bukunya If Life is a Game, These are The Rules (Broadway,<br />
1998), motivator andal Cherie Carter-Scott, PhD, memberikan pandangan<br />
spiritual dasar untuk menjelaskan apa artinya menjadi manusia lewat<br />
10 kaidah kehidupan.</p>
	<p>Menurut Cherie, sejak &#8220;memperoleh&#8221; tubuhnya, manusia mulai memasuki<br />
sekolah kehidupan. Yang dihadapi setiap hari tak lain<br />
adalah &#8220;pelajaran&#8221; demi&#8221; pelajaran&#8221;. Setiap pelajaran selalu diulang<br />
sampai kemudian dikuasai. Tak ada kata salah-benar, yang ada hanya<br />
pelajaran. Proses belajar itu tak ada akhirnya. Orang lain adalah<br />
cermin bagi kita. Seperti apakah hidup kita nanti amat tergantung<br />
pada diri sendiri.</p>
	<p>Anto memiliki tabiat yang kurang baik. Gampang marah, memaki, atau<br />
ngomel. Suatu hari ayahnya memberi sekantung paku seraya berpesan,<br />
setiap kali marah atau ngomel, ia harus menancapkan sebuah paku pada<br />
kayu pagar belakang rumah.</p>
	<p>Hari pertama, Anto menancapkan 27 paku. Hari demi hari berikutnya ia<br />
mampu mengurangi jumlah paku yang mesti ditancapkan. Lama-lama ia<br />
sadar, ternyata lebih mudah mengendalikan emosinya daripada harus<br />
menancapkan paku. Ia melaporkan hal itu pada sang ayah. Setelah itu<br />
ayahnya menyarankan, mulai sekarang Anto diharuskan mencopot kembali<br />
satu paku setiap kali ia berhasil mengendalikan emosinya. Pada<br />
akhirnya anak muda itu berhasil mencopot semua paku yang tertancap<br />
pada kayu tersebut.</p>
	<p>Sang ayah kemudian menggandeng Anto melihat pagar kayu. &#8220;Kau telah<br />
melakukan sesuatu yang baik anakku. Namun, lihatlah kayu besar ini<br />
sekarang berlubang-lubang, tidak mulus lagi. Inilah cermin hidup.<br />
Setiap kemarahan, kegusaran, akan menimbulkan bekas luka di hati<br />
orang. Persis seperti bekas-bekas lubang paku pada kayu ini.<br />
Betapapun kita berkali-kali minta maaf, luka itu masih ada&#8221;</p>
	<p>Dalam bukunya, Cherie Carter-Scott menulis, &#8220;&#8230; Setiap kemarahan<br />
akan membuatmu menjadi lebih kecil, sementara memaafkan akan<br />
mendorongmu untuk berkembang jauh melebihi ukuranmu.&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/paku-pagar/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Cermin Seekor Burung</title>
		<link>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/cermin-seekor-burung/</link>
		<comments>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/cermin-seekor-burung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2005 09:43:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ones</dc:creator>
		
	<category>Motivation Stories</category>
		<guid>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/cermin-seekor-burung/</guid>
		<description><![CDATA[	KETIKA musim kemarau baru saja mulai. Seekor burung pipit mulai
merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang
dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan
tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara,
mencari udara yang selalu dingin dan sejuk.
	Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara
makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>KETIKA musim kemarau baru saja mulai. Seekor burung pipit mulai<br />
merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang<br />
dituduhnya tidak bersahabat. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan<br />
tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya, terbang jauh ke utara,<br />
mencari udara yang selalu dingin dan sejuk.</p>
	<p>Benar, pelan pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara<br />
makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara<br />
lagi.</p>
	<p>Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel<br />
salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena<br />
tubuhnya terbungkus salju.</p>
	<p>Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah<br />
tebal. Si burung pipit tak mampu berbuat apa apa, menyangka bahwa<br />
riwayatnya telah tamat.</p>
	<p>Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor<br />
kerbau yang kebetulan lewat menghampirinya. Namun si burung kecewa<br />
mengapa yang datang hanya seekor kerbau. Dia menghardik si kerbau<br />
agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin<br />
mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.</p>
	<p>Si kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing<br />
tepat di atas burung tersebut. Si burung pipit semakin marah dan<br />
memaki maki si kerbau. Lagi-lagi si kerbau tidak bicara, dia maju<br />
satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung.<br />
Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran<br />
kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas.</p>
	<p>Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku<br />
pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia<br />
dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si burung<br />
pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas puasnya.</p>
	<p>Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri<br />
sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan<br />
kemudian menimang nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-<br />
sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Begitu bulunya<br />
bersih, si burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah<br />
mendapatkan teman yang ramah dan baik hati.</p>
	<p>Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap<br />
gulita bagi si burung, dan tamatlah riwayat si burung pipit ditelan<br />
oleh si kucing.</p>
	<p>Hmm&#8230; tak sulit untuk menarik garis terang dari kisah ini, sesuatu<br />
yang acap terjadi dalam kehidupan kita: halaman tetangga tampak<br />
selalu lebih hijau; penampilan acap menjadi ukuran; yang buruk acap<br />
dianggap bencana dan tak melihat hikmah yang bermain di sebaliknya;<br />
dan merasa bangga dengan nikmat yang sekejap. Burung pipit itu adalah<br />
cermin yang memantulkan wajah kita&#8230;
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/cermin-seekor-burung/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>TABAH</title>
		<link>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/ones-blogs-%e2%80%ba-create-new-post-%e2%80%94-blogsome-wordpress/</link>
		<comments>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/ones-blogs-%e2%80%ba-create-new-post-%e2%80%94-blogsome-wordpress/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2005 09:36:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ones</dc:creator>
		
	<category>Poetry</category>
		<guid>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/ones-blogs-%e2%80%ba-create-new-post-%e2%80%94-blogsome-wordpress/</guid>
		<description><![CDATA[	Sejuk&#8230;.
Kala angin membelaiku
Kala angin membelaiku
	Indah&#8230;.
Ketika cinta menghampiri
Ketika cinta menghampiri
	Syahdu&#8230;.
Ketika  cita tergapai
Ketika  cita tergapai
	Tapi&#8230;.!
Indah Terasa Sakiiiiit&#8230;!!
Ketika kita tak bersyukur
Ketika kita tak bersyukur
Ketika kita tak bersyukur
Ketika kita tak bersyukur
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Sejuk&#8230;.<br />
Kala angin membelaiku<br />
Kala angin membelaiku</p>
	<p>Indah&#8230;.<br />
Ketika cinta menghampiri<br />
Ketika cinta menghampiri</p>
	<p>Syahdu&#8230;.<br />
Ketika  cita tergapai<br />
Ketika  cita tergapai</p>
	<p>Tapi&#8230;.!<br />
Indah Terasa Sakiiiiit&#8230;!!<br />
Ketika kita tak bersyukur<br />
Ketika kita tak bersyukur<br />
Ketika kita tak bersyukur<br />
Ketika kita tak bersyukur</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/ones-blogs-%e2%80%ba-create-new-post-%e2%80%94-blogsome-wordpress/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Mid Test</title>
		<link>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/mid-test/</link>
		<comments>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/mid-test/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2005 09:24:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ones</dc:creator>
		
	<category>My Life</category>
	<category>Campus</category>
		<guid>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/mid-test/</guid>
		<description><![CDATA[	Wah, hari ini pagi-pagi banget gw dah brangkat ke Kampus Biru. Mau blajar PHP, soalnya jm 12.30 gw mid test. Gw belajar beneran, berjam-jam di depan komputer. Sesekali gw menggeliat, bwat ngilangin rasa letih. Uh, jadi juga codingnya, aku compile ahh.! Eh, gak tau gw yang error apa computernya, codingnya gak menghasilkan seperti yang gw [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Wah, hari ini pagi-pagi banget gw dah brangkat ke Kampus Biru. Mau blajar PHP, soalnya jm 12.30 gw mid test. Gw belajar beneran, berjam-jam di depan komputer. Sesekali gw menggeliat, bwat ngilangin rasa letih. Uh, jadi juga codingnya, aku compile ahh.! Eh, gak tau gw yang error apa computernya, codingnya gak menghasilkan seperti yang gw harap.</p>
	<p>Duh, gimana nih. pusing juga bikin program, padahal sederhana banget lho. Ah, emang gw orangnya gak sabaran. Gw tuh bukan tipe orangnya simple sih, jadi kalo mau begini ya ayo. kalo gak mau ya udah. Sama kayak program yang dw bikin, kalo jadi ya bagus, tapi kalo gak jadi ya udah. Paling2 gw nanya ma temen. </p>
	<p>Akhirnya gw nanya bener ma Si Gun. Lama juga kami menelusuri satu per satu baris2 kode yg gw bikin. Jadi juga akhirnya. Yah, udah jam 12.25, Mid Test sekarang&#8230;! </p>
	<p>Kaget, ternyata soalnya sama persis kayak program yang aku buat latihan, ya udah gw gak mau pusing, gw ambil aja program yang tadi. Asyik&#8230;! Aku compile ah. Haaah&#8230;! Kok ga bisa..! gw dah mulai naik. Gw tanya dosen kenapa programnya gak jalan, eh dia rupanya malez lihat programku yang panjang. Gw coba cari bugnya, tapi g ketemu2. Sampe waktunya abis. Nyesek dech..!
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ones.blogsome.com/2005/10/25/mid-test/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>14 sial, 21-22 Okt 05</title>
		<link>http://ones.blogsome.com/2005/10/24/hello-world/</link>
		<comments>http://ones.blogsome.com/2005/10/24/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2005 05:56:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ones</dc:creator>
		
	<category>My Life</category>
		<guid>http://ones.blogsome.com/2005/10/24/hello-world/</guid>
		<description><![CDATA[Di balik kesialan, ada kebaikan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Welcome to ones at Blogsome. This is my first post. Dua hari kemarin gw ngalamin hal yang aneh banget. Gw kena sial sebanyak 14 kali. Pertama hari Sabtu, 21 Oktober 05 pagi-pagi banget ada seorang tetangga nganterin titipan surat pengumuman rutin buat komunitasnya, namanya Bu A***n. Eh dia ngomongnya ga ngenakin banget, &#8220;Jangan di buang ya?&#8221;, katanya dengan wajah cemberut dan muka dilipet 14, jadi ciut gitu. Kenapa dia bilang gitu, padahal kita kurang baik apa, setiap minggu kami nganterin surat titipan itu orang yang di tuju. Padahal jumlahnya ada 6, dan rumahnya masing2 jauh2 banget. Setiap minggu lho, selama beberapa tahun terakhir. Eh, dia ngomong gitu siapa yang ga kesel, kalo bukan bulan puasa aku makan tuh orang, untungnya aku puasa takut batal. He&#8230;he&#8230;!</p>
	<p>Sial yang kedua, gw kan iseng betulin pager garasi sama Aat. Gak tau gemana, tau2 jari tengah tangan kiri gw, terpukul martil yang di pakai Aat. Bengkak dah jari gw. Duh Sakiiit..! Gimana sih masak jari orang dipukul, emangnya gw dah kebal. Sebelum mukul jari orang, coba tes dulu pukul jari sendiri, enak gak? kalo gak enak ya jangan mukul gw dong. Hu&#8230;hu..!</p>
	<p>Sial yang ketiga kepala gw ketiban kaso, pas lagi narik terpal garasi dari atap. Waduuuh&#8230;! Benjol palaku, hiks..hiks..!</p>
	<p>Sial yang keempat, gw mau seminar UFO di Pondok Betung, katanya ada banyak mitraku yang mau brangkat bareng, pas aku samperin ternyata ada acara mendadak semua?? Akhirnya gw cuma berdua ma Ilo, mitraku juga. Dah gitu gw SMS mitra terbaik (tau kan), namanya S**, dia jg janji mo dateng. Ternyata ampe acara mulai, gak dateng2 juga. Tambah lagi, ujan turun deres banget. Wah, kaco semua. Padahal abis seminar seharusnya gw ngajar, akhirnya g bisa ngajar dan Rp. 50.000 lewat begitu saja. Ini jadi sial kelima.</p>
	<p>Yang keenam, pas ujan udah reda, gw balik ma Ilo, di tengah perjalanan bensin abis. Dorong deh, aduh capek. Tadi cuman buka Es Kelapa doang. </p>
	<p>Yang ke tujuh, ampe rumah Ilo, gw langsung balik, semangat banget cause gw mo main bulu tangkis, dah 10 hari gak main, gw kan hobby banget. Eh, pas ampe rumah, ternyata mati lampu, udah gitu lapangan berair lagi. AduuuuH&#8230;.aduuuh..! Akhirnya gw ngobrol2 ma Aat. &#8220;At, tar kalo lampu nyala, kita main bulu tangkis yuk?&#8221;. &#8220;Ayo..!&#8221; jawabnya. Tapi lampu di tunggu gak nyala2. Tiba-tiba lampu nyala, orang2 pada sorak, ternyata cuma sebentar. Akhirnya Aat masuk. Dah BeTe nungguin.    </p>
	<p>Jam 23.30, lampu nyala, &#8220;At, lampunya nyala&#8230;.!&#8221;, gw langsung ambil serokan ma pel buat ngeringin lapangan. &#8220;srok&#8230;srok&#8230;!&#8221;, sendirian lagi. Setengah jam kemudian lapangan dah kering.  Aku masuk mau panggil Aat. Ternyata dia lagi nonton bola, dia kalo dah nonton bola gak mao diganggu. Akhirnya, gw dah capek2 ngebersihin lapangan, gak jadi main. Siaaaallll..! Ini yang ke delapan. </p>
	<p>Masih ada 6 sial lagi, tapi gw dah capek nih. Dah dulu yah, tar kita sambung lagi deh. Huaaaah&#8230;!
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ones.blogsome.com/2005/10/24/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
